Rabu, 24 Januari 2018

Perkembangan Otak Anak Usia Dini


foto:duniaanak.org


Perkembangan otak anak begitu cepat selama lima tahun pertama kehidupan, terutama tiga tahun pertama. Saat-saat ini adalah masa perkembangan kognitif, linguistik, sosial, emosional dan motorik yang cepat. Misalnya, anak belajar banyak kata mulai sekitar 15-18 bulan. Belajar bahasa cepat berlanjut ke tahun-tahun prasekolah.

Otak anak tumbuh saat ia melihat, merasakan, mencium, dan mendengar. Setiap kali anak menggunakan salah satu indera, koneksi saraf dibuat oleh otak anak. Pengalaman baru berulang kali membantu membuat koneksi baru, yang membentuk cara bagaimana dipikirkan, dirasakan, berperilaku dan dipelajari anak di msa sekarang dan masa depan.

Hubungan erat antara anak dengan ibu sebagai pengasuhnya adalah cara terbaik membantu perkembangan otak anak. Ketika ibu bermain, bernyanyi, berbicara, membaca atau menceritakan sebuah cerita kepada anak itu dan merawatnya dengan makanan sehat, cinta dan kasih sayang. Menjadi sehat, berinteraksi dengan ibu beserta keluarga dan tinggal di lingkungan yang aman dan bersih berpengaruh dalam perkembangan otak anak.

Anak-anak membutuhkan banyak perawatan dan kasih sayang di tahun-tahun awal. Memegang, memeluk dan berbicara dengan anak merangsang pertumbuhan otak dan mendorong perkembangan emosional. Dipelihara dekat dengan ibu dan diberi ASI memberi rasa aman emosional pada bayi. Bayi menyusu untuk mendapatkan nutrisi dan kenyamanan.

Bagi anak kecil, menangis adalah cara berkomunikasi. Menanggapi tangisan anak dengan memegang dan atau berbicara dengan lembut padanya, akan membantu membangun rasa percaya dan aman. Jenis ikatan awal dan keterikatan pada ibu, ayah atau pengasuh membantu anak mengembangkan berbagai kemampuan untuk digunakan dan dibangun sepanjang hidup.  

Seiring dengan perkembangan otak anak, perlakukanlah emosinya yang nyata dan kuat. Anak-anak mungkin menjadi frustrasi jika mereka tidak dapat melakukan sesuatu atau memiliki sesuatu yang mereka inginkan. Mereka sering takut pada orang asing, situasi baru atau kegelapan. Anak-anak yang reaksinya ditertawakan, dihukum atau diabaikan mungkin tumbuh pemalu dan tidak dapat mengekspresikan emosi secara normal. 

Jika seorang ibu bersabar dan simpatik saat anak mengekspresikan emosi kuat, anak tersebut cenderung tumbuh bahagia, aman dan seimbang. Anak laki-laki dan perempuan memiliki kebutuhan fisik, mental, emosional dan sosial yang sama. Keduanya memiliki kapasitas belajar yang sama. Keduanya memiliki kebutuhan yang sama untuk kasih sayang, perhatian dan persetujuan.

Anak kecil dapat mengalami stres yang berlebihan jika mereka dihukum secara fisik atau emosional, terpapar kekerasan, terbengkalai atau disiksa, atau tinggal di keluarga dengan penyakit jiwa, seperti depresi atau penyalahgunaan zat. Tekanan ini mengganggu perkembangan otak dan dapat menyebabkan penundaan kognitif, sosial dan emosional dan masalah perilaku di masa kanak-kanak dan di kemudian hari.